Manda dan cintia adalah pemuzik jalanan dari Jakarta Barat. Walaupun mreka masih muda tapi mereka sudah pandai mencari wang dengan menyanyi dan bermain alat muzik.

Jika anda tidak mahu membacanya anda boleh terus scroll kebawah untuk menonton video yang kami disediakan…

Antara Komen Netizen di Media sosial

Ya Allah.. Semoga 2 anak cantik dan berbakat ini Engkau kabulkan cita²nya menjadi penyanyi. Semoga sukses selalu kamu berdua ya.
org lain yang sama usia mereka lain masih lagimengharapkan duit dari mak ayah tapi mereka lain pulak. SALUT semangat adik2 ni.
Fuhh.. Sedap Suara Adik Ni Bawak Lagu Suci Dalam Debu. Usia Masih Muda Tapi Sudah Jadi Pemuzik Jalanan..

Seriuss, semalam saya bertemu dengan mereka. Suara mereka sangat bagus sekali kalau dibandingkan sama Judika
masih anak kecil lagi meraka. Semoga tuhan melindungi kalian berdua.

Segala perkongsian video diharap dapat memberi sedikit pembelajaran yang menghiburkan. Semua gurauan ini tidak sesekali menimbulkan sebarang permusuhan atau diskriminasi antara kaum..

Kelompok Penyanyi Jalanan adalah grup musik yang lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap pungutan liar yang terjadi di Jakarta. Pada tahun 1970–1982, hanya ada dua lokasi mengamen di Jakarta, yaitu Pasar Kaget (Taman Martha Tiahahu) dan Pencenongan. Para pengamen di sini harus membayar upeti sebesar Rp4.000 kepada preman supaya bisa mengamen di kedua lokasi tersebut. Dengan terbentuknya kelompok ini, pecahlah bentrok fisik antara pengamen dan preman pada 2 Mei 1982. Bentrok ini dimenangkan oleh para pengamen, sehingga pungutan liar pun tidak ada lagi.[1]

Meskipun awalnya kelompok ini bertujuan untuk menghilangkan pungutan bagi para pengamen, namun kelompok ini sebenarnya dimaksudkan sebagai ruang lokakarya bagi para pengamen. Lokakarya ini bertujuan supaya para pengamen tidak terjebak akan rutinitas mereka yang berbeda dengan orang pada umumnya. Rutinitas mengamen pada malam hari dan tidur pada siang harilah yang ingin mereka perbaiki. Akhirnya, setelah lima tahun berdiri mereka memiliki agenda rutin yang disebut Wapres (singkatan dari “Warung Apresiasi”). Selain fasilitas bagi para pengamen, mereka juga mendirikan Bulungan Boxing Camp bagi para anak jalanan yang tidak berminat pada musik.

Kami sentiasa ingin membawa lebih banyak keseronokan dan gelak ketawa kepada komuniti lebih-lebih lagi selepas waktu kerja.. Diharap penonton tidak menggunakan kata² kasar dalam komen..

Semoga anda semua berpuas hati dan terhibur dengan setiap posting yang kami sediakan..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *